Maret 2, 2024

Ketika memasuki gerbang Insan Teratai, ada sesuatu yang berbeda. Di tangan dingin Tc Sugi, ia mulai memoles tiang-tiang penyangga gedung sekolah Insan Teratai dengan balutan lukisan bernuansa daerah. Ada gambar orang berpakaian adat minang, Betawi, Jawa dan beberapa daerah lain. Potret yang melekat pada tiang itu menggambarkan sebuah keberagaman budaya, etnis, dan suku yang tergabung pada sekolah Insan Teratai. Sekolah menjadi ruang terbuka dan menampung guru, karyawan dan siswa/i dari pelbagai suku yang berbeda. Perbedaan itu menjadi simpul yang menarik bila dikelola secara baik dan dalam proses pengelolaan itu, perlu adanya upaya untuk terbuka dan sikap menerima antara satu dengan yang lain.

Sekolah merupakan “ruang publik” yang berani menerima siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan tanpa harus mempersoalkan latar belakang berkaitan dengan hal-hal primordial yang melekat pada dirinya, seperti aspek kesukuan, agama dan etnis yang dimiliki. Dengan menerima keberagaman ini maka sekolah secara tidak langsung mengelola “Indonesia Mini” yang di dalamnya memuat pelbagai karakter yang membentuk keberagaman. “Indonesia Mini” memuat pelbagai kultur yang berbeda tetapi tidak menjadi bagian yang terpisahkan namun justeru memperkaya keberagaman kita sebagai sebuah bangsa.   

Tiang-tiang keberagaman yang berdiri tegar dan tegak menyangga sebuah bangunan bernama Insan Teratai, memperlihatkan kekokohan bangunan megah yang dihuni oleh anak-anak didik yang terhimpun dari pelbagai suku, agama dan etnis. Ikatan primordial (suku, agama, ras) yang ada di persekolahan Insan Teratai tetap memberi warna tersendiri, warna bersahaja dan selalu memperlihatkan nilai keberagaman yang membentuk negeri ini. Generasi-generasi yang kini tumbuh di era milenial perlu belajar banyak hal tentang nilai-nilai keberagaman dan toleransi yang sebagai bekal awal untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang beragam. Sekolah menjadi tempat pertama untuk menanamkan nilai-nilai keberagaman dan sekaligus membangun rasa persaudaraan sebagai bangsa yang terajut dari pelbagai hal yang beragam.

Ketika melihat pelangi saat hujan gerimis mengguyur bumi ini, keindahan pelangi  menegaskan kepada kita bahwa  perbedaan menampilkan nilai estetis tersendiri bagi mata yang memandang. Memang, memandang pelangi berarti memandang perbedaan warna tetapi warna-warna yang membentuk pelangi itu tidak berdiri sendiri sebagai yang terpisah dari yang lain. Namun justeru, dalam pelangi itu membawa keberbedaan untuk menyatu dengan yang lain dan membentuk keindahan yang menakjubkan. Perbedaan warna pada pelangi dilihat sebagai sesuatu yang terberi dari Tuhan Yang Maha Esa dan manusia hanya boleh menikmati pemberian itu. Demikian juga tentang perbedaan yang ada di negeri ini merupakan sesuatu yang terberi. Tak seorang pun meminta untuk dilahirkan sesuai dengan agama, suku dan etnis yang dipilih.  Tetapi segala perbedaan yang kita terima saat ini merupakan sesuatu yang terberi dan harus kita jaga pemberikan dari Yang Maha Kuasa itu.

Sekolah Insan Teratai berperan penting dalam merawat perbedaan itu. “Harmoni dalam perbedaan” merupakan slogan yang terus digaungkan oleh Sekolah Insan Teratai, sekaligus menanamkan nilai-nilai patriotik dalam diri anak-anak didik untuk saling menghargai perbedaan di antara teman-temannya. Jiwa kepahlawanan yang harus ditumbuhkan dalam diri anak-anak saat ini adalah “berani menghargai perbedaan” dan menerima perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan bangsa.  Lukisan etnik pada tiang-tiang gedung Insan Teratai mengingatkan  kita akan sesuatu yang asasi yang perlu dirawat sepanjang sejarah.***(Valery Kopong)