Maret 2, 2024

Ketika membaca sebuah kisah inspiratif dan merenungkan, sepertinya setiap saat ada tangan-tangan terulur untuk membantu sesamanya. Seorang lelaki berusia 50-an tahun mengambil sebuah keputusan untuk berbuat sesuatu, terutama mau mendirikan sebuah panti asuhan, tempat untuk menampung anak-anak terlantar. Tetapi dari mana uang yang harus digunakan untuk membangun gedung yang akan digunakan untuk panti asuhan?   

Lelaki itu  mulai mendirikan sebuah panti asuhan dengan tangan hampa, tanpa uang dan aku yang membaca kisah ini  tergidik diam.  Modal utama yang ada dalam dirinya adalah doa dan harapan yang selalu ia panjatkan kepada Tuhan setiap hari. Keinginan besar untuk mendirikan panti asuhan itu  menjadi bahan tertawaan rekan-rekan sekampungnya. Mengapa teman-temannya melihat keinginan besar ini dan menjadikannya sebagai bahan tertawaan? Karena bertitik tumpuh pada pengalaman umum bahwa jika mau mendirikan sebuah bangunan, mestinya harus dibuat rancang bangunan dan anggaran yang harus disiapkan terlebih dahulu secara matang.  Dengan melihat sketsa bangunan yang bakal didirikan, bisa meyakinkan orang lain akan sebuah proyek besar yang akan dieksekusi.

Memang, lelaki itu  yang hendak mendirikan sebuah panti asuhan tanpa modal itu layak menjadi bahan tertawaan. Ketika ditanya dari mana modal utama untuk mendirikan panti asuhan? Dengan nada santai ia  menjawab bahwa saya akan mendirikan sebuah panti asuhan dan uang yang akan saya gunakan untuk mendirikan bangunan itu, masih ada “di tangan para donatur.”  Mendengar jawaban ini sepertinya sebuah jawaban konyol karena bagi teman-temannya, tak mungkin bahwa membangun sebuah panti asuhan dengan “tiang-tiang mimpi.” Namun karena tekadnya yang kuat dan tentunya intervensi Tuhan maka ia berhasil menerjemahkan mimpi itu dalam sebuah bangunan untuk menampung orang-orang terlantar.

Membaca kisah masa lampau, sepertinya menggiring kesadaranku untuk melihat potret kisah masa kini yang hampir mirip.  Membaca kisah masa lampau seperti membaca kembali jejak-jejak Insan Teratai yang lahir dari sebuah “mimpi besar” dari seorang tangan dingin Siang Riani. Barangkali pada titik awal “bermimpi” untuk membangun Insan Teratai, orang-orang sekelilingnya tentu memberikan reaksi yang berbeda. Namun apa pun reaksi orang-orang sekitar, “mimpi” itu harus direalisasikan dan jadilah bangunan megah Insan Teratai yang tidak lain adalah titik kulminasi dari pengorbanan dan air mata.  Memandang Insan Teratai sepertinya memandang keteduhan mimpi dan ingatan pendiri tertuju pada memori akan  tantangan dan perjuangan dalam mencari dana.  

Apakah setelah “melahirkan bangunan,” maka mimpi itu berhenti? Jawabannya, tidak!! Mimpi itu terus dibangun agar kesadaran tetap terjaga untuk merawat generasi yang sedang terlibat. Generasi muda yang menjadi penghuni Insan Teratai untuk menimbah ilmu pengetahuan dan “menginternalisasi diri” dengan nilai-nilai utama yang membentuk karakter, merupakan proyek kemanusiaan yang terus ditangani tanpa lelah diujung letih. Proses pendidikan tidak hanya semata-mata dilihat sebagai transfer ilmu pengetahuan agar anak-anak menjadi pintar tetapi lebih pada upaya menyeimbangkan aspek kognitif dan pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan yang akan membentuk karakter anak didik .

Upaya mewujudkan “proyek kemanusiaan” ini merupakan proyek jangka panjang dan tentunya menguras energi dan finansial. Insan Teratai terus berada pada tuntutan yang terkadang memunculkan situasi dilematis. Proses pendidikan terus berjalan dan juga membutuhkan banyak dana operasional untuk menunjang “energi” Insan Teratai dalam menapaki hari-hari hidupnya. Bahwa anak-anak yang saat ini berada dalam asuhan para guru, hampir pasti bahwa semuanya tidak berasal dari keluarga mewah. Bahkan beberapa informasi yang sempat menghinggapi kuping sang penulis, sebagian besar orang tua tidak mampu secara finansial dan berdampak pada pembiayaan uang sekolah.

Garis kemiskinan, sepertinya menuntun mereka yang tak mampu secara ekonomi untuk melangkahkan kaki menuju Insan Teratai. Kini, Insan Teratai telah membuka hati bagi mereka yang berharap dan dari “rahim Insan Teratai” membuka diri untuk para donatur agar  menyisihkan sedikit dari kekayaannya untuk berdonasi agar  “denyut nadi” perjalanan Insan Teratai  tetap terawat. Sekecil apa pun donasimu, akan mencerahkan masa depan anak-anak. “Tuhan mengubah malam gelap gulita menjadi terang benderang dan Tuhan yang sama mengubah kegelapan hidup anak-anak yang terpuruk saat ini  menjadi terang suka cita dalam genggaman cita-cita mereka. Mereka adalah anak-anak yang memiliki segudang mimpi dan terus berjuang dalam situasi apa pun. Seperti bunga teratai, yang walaupun berada dalam lumpur yang kotor, tetap memperlihatkan mekar bunga mewangi untuk orang-orang memandangnya.  ***(Valery Kopong)