Maret 2, 2024

Perilaku anak terkadang membuat orangtua jengkel, terutama jika sikapnya sudah benar-benar tidak bisa ditolerir, seperti memukul temannya. Apa yang harus orangtua lakukan? Haruskah anak dihukum?

Memberikan hukuman terutama hukuman fisik, seperti memukulnya sangat tidak dianjurkan. Pada anak yang berusia 1-2 tahun, mereka belum memahami arti pukulan Anda tersebut. Anak hanya paham kalau pukulan tersebut membuatnya sakit.

Memukul juga bisa berefek buruk pada anak di masa depan. Ingatlah anak belajar dari orangtuanya. Jadi pastikan Anda menjadi contoh yang baik untuk mereka. Sebelum menghukum anak, kalau memang Anda perlu melakukannya, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan. Coba tanyakan pada diri sendiri beberapa pertanyaan di bawah ini:

1. Apakah dia sudah tahu kesalahannya?
2. Perlukah dilakukan tindakan yang bisa membuatnya jera?
3. Apakah anak mungkin akan melakukannya lagi?
4. Apakah anak mengerti kalau tindakannya itu tidak baik?

Setelah tahu jawabannya dan Anda merasa memang anak perlu dihukum, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan. Cara-cara tersebut di antaranya dengan menggunakan timeout, memberi contoh yang baik, tidak lagi memberinya hadiah atau pujian dan membuatnya paham kalau ada konsekuensi dari tindakannya tersebut.

Sebagai contoh, saat anak diketahui memukul temannya, beritahu padanya kalau tindakannya itu tidak baik. Agar anak jera, Anda bisa menghukumnya dengan tidak mengizinkan anak memainkan mainan favoritnya atau makan makanan kesukaannya. Usahakan anak paham kalau apa yang Anda lakukan itu adalah konsekuensi dari perbutannya. Jangan lupa untuk memberinya pelukan setelah dia mulai tenang. Cara ini Anda harus lakukan agar si kecil tidak merasa Anda tak menyayanginya.

Sebagai orangtua, usahakan Anda memang sudah memberitahu anak soal berbagai ‘aturan’ yang harus ditaatinya dan apa konsekuensi jika dia tidak mengikuti aturan tersebut. Misalnya saat Anda mengetahui anak tiba-tiba menggunakan krayon atau spidolnya untuk mewarnai tembok rumah, katakan pada mereka kalau hal itu sebenarnya tidak boleh dilakukan.

Jelaskan padanya apa yang akan ia dapat jika tindakan tersebut diulanginya lagi. Contohnya, anak tidak boleh memakai crayon untuk beberapa hari atau dia harus membantu membersihkan tembok. Kalau anak masih mengulangi perbuataannya, ingatkan lagi kalau krayon sebaiknya digunakan di buku gambar atau di atas kertas, lalu laksanakan ‘hukuman’ yang sebelumnya sudah Anda bicarakan dengannya.

Memberikan time out ketika siswa melanggar aturan. Duduk di kotak merah sebagai salah satu cara yang lumayan efektif. Guru tidak perlu marah karena siswa sudah tahu aturan main dalam semua kegiatan di dalam maupun di luar kelas. tetapi ada hal yang harus dilakukan seorang guru setelah siswa menjalani hukuman. Kata dengan tegas tapi penuh kasih sayang kepada anak “Bu Guru sayang sama kamu, tetapi kamu melanggar aturan yang kita buat sama-sama. Besok kamu akan jadi anak yang baik karena jika kamu jadi anak yang baik kamu akan senang dan bangga terhadap diri kamu”.