Maret 2, 2024

Di tengah terpaan Covid 19 ini, membawa dampak kerugian yang tidak terpikirkan sebelumnya. Hantaman pandemi ini tidak hanya mematikan manusia saja, tetapi juga menghantam seluruh bangunan bisnis yang bertahun-tahun bisa menghidupi para karyawan maupun konsumen. Akibat hantaman pandemi tanpa kompromi ini menimbulkan persoalan pada lembaga-lembaga lain. Ketika para pekerja sebagian besar mengalami pemutusan hubungan kerja dengan perusahaannya maka akan berdampak pada instansi lain, terutama sekolah. Dampak yang paling dirasakan adalah tersendatnya pembayaran uang sekolah oleh orang tua karena alasan keruntuhan ekonomi keluarga. 

Dengan adanya ketersendatan dalam membayar uang sekolah ini juga memberi dampak pada pihak sekolah. Dari mana biaya operasional sekolah didapat jika terjadi tunggakan yang begitu banyak? Kita melihat peristiwa ini dalam satu mata rantai yang saling bersinggungan, tidak hanya antar pribadi tetapi juga bisa terjadi antar lembaga atau instansi. Ketika para pekerja di perusahaan mengalami kebangkrutan karena dampak dari adanya pandemi ini maka secara tidak langsung memberikan dampak pada sekolah, di mana anak-anak mereka mengenyam pendidikan. Situasi yang dialami ini memang serba dilematis, bahwa di satu sisi, pendidikan anak-anak juga mendapat perhatian tetapi di sisi lain pemenuhan kebutuhan hidup, juga mendapat prioritas.

Beberapa sekolah swasta saat ini tengah mengalami kesulitan untuk mendapatkan siswa-siswi yang baru. Orang tua masih ragu-ragu dan begitu banyak pertimbangan ketika mau mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah, terutama sekolah swasta. Pertimbangan penuh keraguan dari orang tua ini memang bisa dipahami, yakni bahwa orang tua berada pada posisi belum mendapatkan pekerjaan yang tetap. Tetapi menjadi perhatian juga bahwa anak-anak usia sekolah, terutama siswa-siswi yang mendaftarkan diri ke jenjang berikutnya juga harus mendapatkan perhatian. Masa depan siswa-siswi harus ditentukan oleh keputusan hari ini karena siswa-siswi harus mendapatkan pendidikan yang layak agar pada akhirnya mereka bisa mengejar cita-cita dan pekerjaan di kelak kemudian hari.

Sekolah Insan Teratai dan juga sekolah-sekolah lain, saat ini sedang gencar mencari siswa-siswi baru untuk tahun ajaran berikutnya. Melihat kondisi yang terjadi di sekolah Insan Teratai dalam kaitan dengan pendaftaran siswa-siswi baru, agak sedikit berat karena banyak orang tua masih mempertimbangkan kehidupan ekonomi dan begitu banyak alasan lain. Melihat situasi seperti ini, maka pada kesempatan zoom meeting bersama para guru dan pimpinan SD Insan Teratai, saya menghimbau agar sudah waktunya kita semua keluar dari zona nyaman. Bahwa selama ini sepertinya kita hanya menunggu pendaftaran murid baru dan kurang menggalakan promosi keluar untuk mendapatkan siswa-siswi dari sekolah lain. Sebagai contoh, saat membuka pendaftaran dan penerimaan siswa-siswi baru di SD Insan Teratai maka jenjang SD tidak hanya berharap pada murid-murid yang saat ini bersekolah di TK Insan Teratai tetapi juga harus berjuang untuk mempromosikan sekolah Insan Teratai ke masyarakat luas dan sekaligus menjaring calon siswa baru yang berasal dari TK lain.

Mengapa strategi ini harus dilakukan? Karena cara ini bisa memberikan harapan dan pada titik tertentu bisa memberikan keberlanjutan proses pendidikan dengan mendapatkan murid dari luar Insan Teratai dalam jumlah yang maksimal. Ada beberapa siswa yang saat ini sedang berada di kelas 9 SMP Insan Teratai, ketika diminta untuk mendaftarkan diri pada SMK Insan Teratai,  beberapa orang hampir memberikan alasan yang sama untuk tidak melanjutkan pendidikan di Insan Teratai. Alasan “bosan dan jenuh” bagi yang tidak lagi melanjutkan pendidikan di sekolah Insan Teratai karena mulai dari TK mereka mengenyam pendidikan di tempat yang sama. Dengan alasan ini, memberikan tantangan tersendiri bagi kita untuk juga mempromosi dan membuka diri terhadap siswa-siswi yang berasal dari luar Insan Teratai. Alasan kejenuhan yang sama pasti juga dialami oleh siswa-siswi di sekolah lain. Karena itu kita berusaha untuk menjemput mereka untuk bergabung pada sekolah Insan Teratai.***Valery Kopong