Maret 2, 2024

Berbicara tentang dunia pendidikan tidak terlepas dari kurikulum yang menjadi perangkat penting dan menjadi rambu-rambu yang mengatur proses pembelajaran. Indonesia mengalami beberapa kali pergantian kurikulum. Setiap kurikulum yang dihasilkan, pasti memiliki nilai lebih dan kurangnya terhadap proses pembelajaran. Desain kurikulum yang selama ini diberlakukan, tentu membantu dalam proses pembelajaran tetapi tidak menjawabi kebutuhan secara penuh, baik butuhan kognitif anak-anak didik maupun tuntutan dunia kerja.  

Kurikulum mestinya didesain, tidak hanya untuk kepentingan pembelajaran semata-mata tetapi juga mendukung dunia kerja, terutama  bagi para lulusan nanti. Mengapa dunia kerja juga memiliki korelasi dengan sistem pemberlakuan kurikulum? Karena hanya mendesain kurikulum yang baik dan memiliki kaitan dengan dunia kerja maka output (lulusan) nanti akan terbantu untuk bisa memulai bekerja. Apakah selama pemberlakuan kurikulum di Indonesia, ada korelasi  praktis antara dunia pendidikan dan dunia kerja?

Mempelajari perkembangan kurikulum yang berlaku di negara-negara maju, sepertinya desain kurikulum sangat mendukung program pemerintah dalam memajukan teknologi industri, bidang  pertanian dan bidang-bidang lain yang menjadi konsentrasi pemerintah. Sebagai contoh, kita bisa melihat perkembangan dunia pertanian di negara Thailand. Kita tahu bahwa Thailand menjadi negara penyuplai beras ke negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.

Dukungan dunia pendidikan di negara Thailand terarah pada dunia pertanian yang menjadi program unggulan pemerintah. Kurikulum pendidikan yang didesain berbasis pada pengembangan dunia pertanian dan pangan.  Di sini kita bisa melihat korelasi produktif dan konstruktif antara penerapan kurikulum yang ada di Thailand yang selalu memperhatikan agrikultura sebagai basis utama untuk mendukung keberlangsungan dunia pertanian. Dunia pendidikan bagi anak-anak usia sekolah merupakan laboratorium yang memberdayakan aspek kognitif dan menerapkannya pada laboratorium alam yang menyediakan hamparan sawah sebagai basis pangan yang memberikan nilai kehidupan bagi banyak orang.

Mengapa dunia pertanian menjadi konsentrasi pemerintah Thailand? Alasan sederhana bahwa manusia butuh bahan pangan terutama beras untuk bisa mempertahankan hidup. Kebutuhan bahan pangan ini harus disediakan setiap saat.   Negara-negara adi daya lain, boleh memberikan perhatian pada teknologi industri yang menghasilkan peralatan canggih bahkan disegani oleh dunia, tetapi peralatan itu tidak memberikan jaminan bahwa ia akan kenyang selamanya. Manusia-manusia yang memproduksi peralatan canggih pada akhirnya membutuhkan makan dengan bahan pangan beras sebagai bahan utama untuk menghasilkan nasi.   

Tentang beras, penulis teringat akan sharing pengalaman Bapak Gunawan Gusti. Ia menceriterakan ba hwa seorang temannya membeli beberapa kapal laut dan ia gunakan untuk berbisnis beras. Ketika ditanya, apa alasan utama untuk berbisnis beras? Dengan nada santai, sang pebisnis beras itu menjawab bahwa dengan berbisnis beras sangat menguntungkan karena setiap saat, semua orang butuh makan. Coba bayangkan setiap hari, berapa ribu mulut yang harus makan nasi dan ini merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Karena setiap saat semua orang membutuhkan makan maka perlu adanya persediaan bahan makanan yang memadai.

Ceritera sederhana di atas menunjukkan bahwa kebutuhan utama yang menopang kehidupan manusia adalah nasi yang berbahan dasar beras, yang dihasilkan oleh para petani. Yayasan Insan Teratai Sejati yang mau membuka sekolah SMK Insan Teratai dengan membuka salah satu jurusan yang menarik, yakni “agribisnis.” Dengan bergelut di dunia agribisnis nanti, siswa-siswi diharapkan untuk bisa mengenal lebih jauh tentang teknik pengolahan lahan pertanian dan bagaimana menghasilkan produk yang baik dengan bantuan peralatan pertanian modern hingga memasarkan produk pertanian dengan bantuan teknologi.

Melihat sepak terjang perhatian negara agraris Thailand, melahirkan pertanyaan baru. Apakah Indonesia sebagai negara yang pernah dijuluki sebagai negara agraris yang berswasembada pangan pada masa  lampau akan terulang lagi? Insan Teratai memulai langkah kecil untuk menyiapkan generasi yang produktif, dan suatu ketika nanti mereka tampil sebagai “petani-petani berdasi.” *** (Valery Kopong)