Feature

Kemah

Posted at September 10, 2019 | By : | Categories : Feature | 0 Comment

Tanggal 30-31 Agustus 2019 berlangsungnya perkemahan Jumat-Sabut atau sering disebut sebagai “Perjusa.” Pelaksanaan perjusa tidak sekedar untuk mengisi kegiatan sekolah tetapi lebih dari itu mengasah kesadaran anak-anak untuk hidup mandiri dan belajar bertanggung jawab. Kegiatan ini terkesan sederhana tetapi bagi anak-anak yang terlibat dalam aksi perjusa ini merupakan kesempatan emas baginya karena mereka bisa  membangun kebersamaan bersama teman-teman dan merasakan hidup di alam terbuka, di bawah kemah-kemah yang berdiri tegak di jantung halaman sekolah Insan Teratai.

Di bawah kemah-kemah itu mereka bercengkerama bersama
teman-teman bahkan mengorbankan waktu untuk tidur pada larut malam. Di bawah terpaan
sinar rembulan malam yang sedikit memancarkan cahaya lembutnya pada penghuni
kolong langit, mereka menikmati “pop mie,” makanan instan yang merupakan
kesukaan anak-anak. Menikmati “pop mie” ibarat menikmati kegembiraan hidup yang
sedang di jalani oleh anak-anak Insan Teratai. Memang hidup butuh proses
panjang dan dalam bentang waktu yang lama, seperti bentangan panjang “pop mie”
perlu diisi dengan nilai-nilai hidup. Ada nilai tanggung jawab, nilai
kebermaaan, dan nilai perjuangan dalam hidup.  

Sembari menjaga anak-anak yang berkemah, mengingatkan
penulis akan sebuah  film yang
mengisahkan tentang dunia akhirat yang bakal terjadi di tahun 2012 silam.   Film
yang ditonton adalah sebuah potret gelisah manusia saat berhadapan dengan
akhirat, sebuah lembar kehidupan akhir yang ditutup secara tragis. Tapi
benarkah itu? Waktu telah membuktikan bahwa film itu merupakan rekayasa manusia
dan belum terbukti dengan kejadian yang memilukan itu.

Menonton film dan mengamati anak-anak yang sedang berkemah membuka ruang pemikiran untuk membersitkan 2 sisi kehidupan yang bersinggungan makna. Film akhir zaman, garapan Amerika memprediksikan keberakhiran dunia dan perkemahan merupakan simbol kesementaraan waktu. Kemah, simbol kesementaraan hidup menjadi titik dasar pemahaman bahwa hidup hanyalah sebuah singgahan sementara. “Suatu saat Tuhan Yang Maha Esa akan datang dan membongkar kemah kehidupan kita.” Jika kemah itu dibongkar maka tamatlah riwayat hidup ini dan manusia hanya menunggu saat yang paling genting untuk membiarkan diri dan kemah dibongkar oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Tuhan Yang Maha Esa, di satu sisi menjadi Sang Arsitek dan pada sisi lain, dalam pandangan dunia akhirat, Tuhan Yang Maha Esa datang sebagai pembongkar kehidupan ini.

             
Dunia dan penghuni di bawah kolong langit masih berbincang dalam nuansa
kecemasan akan datangnya kiamat. Seolah-olah apa yang difilmkan memaksa sebuah
kenyataan untuk segera merealisasi kiamat. Film hanyalah sebuah miniatur yang
memburai kesadaran manusia untuk memahami masa parusia. Komersialisasi film
perlahan terwujud ketika manusia semakin panik sambil mencari sekeping kaset
sebagai dokumentasi hidupnya.

kegiatan Perjusa, 30-31 Agustus 2019

Tuhan Yang Maha Esa dalam kesunyian sedang merekam kepanikan manusia yang seakan menggantungkan nasibnya pada sang sutradara film. Ia (sang sutradara) telah sanggup menembus pasaran dunia dan mengganggu ketenangan manusia lewat sekeping VCD. Dalam penyerangan kesadaran manusia melalui film yang aktif itu, film mengenai kiamat lalu bermetamorfosa menjadi milik orang banyak. Dengan kata lain, film adalah sebuah keberpihakan. Dan ketika seluruh penikmat film bergemuruh oleh riuh gerak, wicara dan kata-kata, tontonan yang aan syik pun berubah menjadi sebuah prosa. Radhar Panca Dahana menyebutnya sebagai bahasa yang riuh, seperti hidup di terminal, di kota besar, di sehari-hari kita. Tuhan Yang Maha Esa telah membimbing kita ke tempat yang lapang (Ehr Fuhrte mich inz weite) untuk ditantang dan membuat sebuah refleksi, tentang hidup, perjuangan dan kiamat. Malam semakin larut, kutemukan diriku sedang menatap kemah yang sementara dan membayangkan tontonan film yang manipulatif itu. ***(Valery Kopong)

About Insan Teratai

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi : Public Relation - Eki Susanta (WA : 0858 9467 5467) (email : insanterataischool@gmail.com )

Leave a Comment